Pluralitas

PLURALITAS

pluralitas

 

Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan ada pada masa lalu bangsa ini, sejak pendiriannya, dan akan terus berjalan bersamanya.

 

PERJUANGAN MENGENYAM KEMAJEMUKAN

Perjuangan untuk mengenyam kemajemukan dalam masyarakat Indonesia tidak pernah mudah. Walaupun bangsa ini didirikan dalam semangat kebersamaan dalam perbedaan, pluralitas selalu menjadi satu isu paling seksi yang dapat disetir menurut kebutuhan pemesan. Kemajemukan bangsa yang diakui dalam konsensus Bhinneka Tunggal Ika ini dapat disetir sebagai alat pemersatu bangsa, maupun sebagai taju pemecah persatuan.

Berbagai organisasi kepemudaan berbasis kedaerahan seperti Jong Sumatranese, Jong Java, Jong Ambon, dan sebagainya, menjadi organisasi pemuda yang awal-awal bergerak membentuk bangsa Indonesia. Organisasi-organisasi tersebut juga menjadi organisasi yang memelopori adanya persatuan atas dasar perbedaan suku. Tanpa adanya inisiatif para pemuda kala itu, Indonesia yang berdasar kepada konsep persatuan dalam kemajemukan mungkin tidak akan ada hingga kini.

 

MENGAPA ISU INI PENTING

Perbedaan Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) seringkali menjadi tajuk utama dalam berbagai pemberitaan nasional. Isu SARA tidak hanya menyinggung perihal keutuhan Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan, tetapi juga hak individual dari masing-masing orang yang mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Hak-hak individual dasar seperti hak hidup aman atau hak untuk berpartisipasi dalam aktivitas politik, seringkali dikesampingkan demi kepentingan tertentu. Ironisnya, hak-hak ini sering dilanggar justru karena kecintaan berlebihan terhadap suku, agama, ras, dan antar golongan tertentu. Chauvinisme SARA melanggar hak dasar, menyebarkan kebencian, bahkan mendustai sumpah bersama untuk berbangsa satu pada 28 Oktober 1928 dulu

 

KITA BISA APA?

Isu SARA merupakan isu yang dinamis. Kondisi sosial politik yang berbeda dapat memunculkan isu SARA yang berbeda. Di berbagai forum obrolan dunia maya, isu SARA masih menempati urutan teratas sebagai topik utama pembicaraan, khususnya jika ada pemberitaan terkait sosial politik yang bersinggungan dengan tokoh politik dari latar belakang etnis tertentu. Berbagai jokes, isu, bahkan sarkasme, banyak ditampilkan dalam konteks SARA. Satu daerah di satu pulau dapat memiliki karakteristik budaya yang berbeda dengan daerah lain di pulau yang lain di seberang samudera, dan hal tersebut memicu ketengangan di antaranya.

Walaupun isu yang sensitif SARA telah diamankan oleh Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang bersinggungan dengan SARA, nyatanya diskusi-diskusi yang mendiskreditkan etnis tertentu tetap digemari di dunia maya. Bahkan, berita terkait SARA lebih banyak diminati dibandingkan positive news atau isu lingkungan.

Pendekatan terhadap isu SARA tidak cukup dilakukan melalui jalan perundang-undangan. Kita membutuhkan komitmen yang kuat untuk menyingkirkan diskriminasi berbasis SARA dengan memulainya dari diri kita sendiri. Berpikiran terbuka, bersikap lapang dada, serta menerapkan assertiveness, merupakan beberapa cara untuk membuka diri dan menutup diskriminasi SARA dari diri kita. Kita berbangsa, kita berbhinneka. Kesadaran akan konsep itulah yang harus dibangun agar tidak ada lagi diskriminasi berbasis SARA yang merugikan pihak-pihak tertentu.

Kesadaran bahwa bangsa ini dibangun dengan keragaman, bukan keseragaman, itulah yang akan menyatukan kita. Saya percaya, kita harus percaya!