Reformasi

Reformasi

Kita ingin dunia menjadi lebih baik, maka perubahan mutlak dibutuhkan.

reformasi 1

 

MENGAWALI PERUBAHAN

Yang paling sulit dari berubah adalah memulainya. Peradaban manusia telah mengalami ribuan perubahan yang diawali dengan terbentuknya kontrak sosial. Pasca kontrak sosial, manusia hidup di dalam koordinasi sebuah organisasi besar yang dinamakan negara. Kontrak sosial terwujud setelah setiap individu menyerahkan setengah dari kebebasannya untuk menjadi dasar ketertiban umum. Pengorbanan menjadi modal dasar untuk setiap perubahan, karenanya ia tidak pernah mudah.

Sejak tahun 1945, kita telah bersama-sama menjadi saksi hidup setiap perubahan yang dialami oleh bangsa ini. Kontrak sosial itu, yang pada konsepnya menjadi awal pembentukan negara, oleh Indonesia dinamakan 4 Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang terdiri atas Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konsensus itu telah menjadi tesis yang jelas tidak pernah berhenti menemui anti-tesisnya. Dalam suatu masa yang kita kenal dengan Orde Baru, berlangsung rezim otoritarian selama lebih dari tiga dekade lamanya. Masa itu menjadi anti-tesis paling keras sepanjang sejarah negara ini berdiri sekaligus menjadi stimulan terkuat untuk kita memulainya; memulai reformasi.

 

MEMPERJUANGKAN PERUBAHAN

reformasi 2

Orde Baru berakhir dengan kesatuan aksi seluruh rakyat untuk menghentikan penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi. Ternyata, butuh lebih dari 10 pemuda untuk mengguncang rezim tanpa oposisi tersebut. Tercatat lebih dari 6.000 mahasiswa menghabiskan hampir 12 jam memperjuangkan hak asasi dalam kerangka demokratisasi. Tampak bagaimana kesatuan langkah untuk mencapai tujuan menjadi penting ketika berbicara perubahan dalam skala suatu bangsa. Reformasi 1998 menjadi bagian dari perubahan besar yang dialami bangsa Indonesia.

 

Tidak mudah untuk memulai, tidak mudah pula menjalaninya. Gejolak demokratisasi pasca reformasi tidak dapat dilihat sebagai seutuhnya penyelesaian, bahkan membuka gerbang permasalahan dan tantangan yang baru dengan kesulitan yang berbeda dari sebelumnya. Kekuasaan tidak lagi dipegang oleh satu orang, maka pengawasan menjadi kabur, karena setiap orang harus mengawasi setiap orang lainnya. Sejak reformasi negara, banyak reformasi bidang terjadi, termasuk redefinisi militer, reformasi birokrasi yang telah puluhan kali menjadi wacana nasional, hingga reformasi agraria yang belum menemui kesepahaman diantara pihak yang berkepentingan. Belum lagi penggunaan hak berpendapat masyarakat luas yang secara nyata kita lihat setiap hari atau setidaknya satu tahun sekali; setiap perayaan Hari Buruh. Semua pihak sangat antusias berdemokrasi dan negara harus menjamin antuasiasme itu terfasilitasi dengan baik. Pertanyaannya, sudahkah substansi demokrasi terwadahi dengan baik? Sudahkah setiap nilai reformasi mewujud dalam perilaku kita di tengah aktivitas sehari-hari?

PERUBAHAN YANG SAYA LAKUKAN

reformasi 3Membawa spirit reformasi dalam kehidupan sehari-hari menjadi tanggungjawab moral kita semua masyarakat Indonesia, termasuk saya pribadi. Setelah dua kali menduduki posisi dalam pemerintahan, saya berupaya membawa substansi demokrasi ke dalam tubuh kelembagaan negara.

Sewaktu menjabat MENHUT, saya dan seluruh jajaran pegawai KEMENHUT RI senantiasa menyebarkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan kami melalui situs resmi kepada masyarakat luas sebagai bentuk upaya penerapan asas transparansi hingga kami pun menerima penghargaan 10 Badan Publik terbaik dalam hal keterbukaan informasi pada tahun 2013.

reformasi 4Selama berkarya mengabdi kepada masyarakat bersama KEMENHUT RI sepanjang tahun 2009-2014, perubahan yang saya bawa selain prinsip transparansi adalah prinsip konkrit. Program-program yang kita kerjakan berbasis solutif dan berdampak nyata, beberapa diantaranya program Menanam 1 Milyar Pohon, Hutan Edukasi, dan Moratorium Pemanfaatan Kawasan Hutan. Kegiatan menanam pohon menjadi aktivitas yang menyenangkan sehingga mengundang partisipasi banyak pihak dari berbagai latar belakang berbeda, bahkan anak-anak di sekolah. Keterlibatan pelajar juga menjadi perhatian kita, maka itu dibuat program Hutan Edukasi, dimana pelajar dan mahasiswa dapat belajar pendidikan lingkungan hidup langsung di lapangan, berkunjung ke hutan. Dalam kebijakan moratorium yang saya buat, inti sasarannya adalah menyelamatkan hutan kita yang masih baik. Sejak moratorium itu lah laju deforestasi turun hingga tinggal 15% dari sebelumnya mencapai lebih dari 50%.

Dengan memulainya, perubahan itu hadir dan membawa kebaikan demi kebaikan hingga banyak permasalahan menemui penyelesaian. Dari pengalaman yang berharga bersama KEMENHUT RI selama lima tahun lamanya, saya belajar banyak tentang memulai perubahan dan menebarkan spirit perubahan itu kepada orang-orang di sekitar saya.

 

MENGAWAL PERUBAHAN BERSAMA

Kembali ke perubahan. Tuntutan untuk berubah tampak tidak sederhana ketika banyaknya amandemen konstitusi tidak merubah banyak hal dalam realita. Hukum adalah alat, penentunya tidak bisa satu penguasa atau 10 pemuda, tetapi seluruh masyarakat Indonesia. Kita semua dapat melibatkan diri mejadi agen-agen perubahan dengan membantu penyelenggaraan negara yang mencerminkan asas-asas good governance, yaitu konsensus, akuntabilitas, transparansi, responsif, efektif, efisien, partisipatoris, dan konstitusional.

Pertama, jangan melewatkan satu kesempatan pun untuk menggunakan hak kita bersuara dan berpendapat, mari memanfaatkan semua kanal yang ada untuk menyalurkan aspirasi terutama menyuarakan solusi untuk permasalahan yang kita hadapi bersama. Kedua, kita sebaiknya tidak berfokus pada kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi dan menghabiskan energi untuk membicarakannya, melainkan bersatu bersama-sama menemukan cara untuk memperbaikinya. Yang terakhir, dengan keragaman sebagai kekayaan besar bangsa kita, maka tantangan terbesarnya adalah menekan keegoisan pribadi agar perbedaan ini sungguh dapat menjadi kekuatan bagi kita semua sesuai dengan semboyan kebanggaan kita, Bhinneka Tunggal Ika. Tujuan kita sudah jelas tertuang dalam Pancasila dengan ujung perjuangan ini; kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Bung Karno pernah berkata, “Revolusi belum selesai”; Ijinkan saya menegaskan: Reformasi kita belum usai.